Rabu, 06 Oktober 2010

BAB IV PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DENGAN PENILAIAN PORTOFOLIO DALAM UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII A SMP ISLAM 02 PUJON TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Paparan Data
Data yang diperoleh mulai dari pratindakan hingga pelaksanaan tindakan pada siklus akan dipaparkan di bab ini. Kemudian diikuti pemaparan hasil analisis data, dan dilanjutkan dengan pembahasan hasil penelitian yang meliputi; (1) proses pembelajaran, (2) peningkatan pemahaman, dan (3) hasil belajar siswa.
4.1.1 Paparan Pratindakan
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan silaturrahmi dengan pihak SMP Islam 02 Pujon. Dalam pertemuan itu, tepatnya tanggal 3 Mei 2008 peneliti bermaksud untuk meminta izin secara lisan untuk melakukan penelitian. Setelah mendapatkan izin dari pihak sekolah, peneliti menindaklanjuti dengan membawa surat pengantar izin penelitian dari pihak FKIP Unisma pada tanggal 24 Mei 2008.
Kegiatan berikutnya dalam pratindakan adalah peneliti melakukan observasi awal terhadap keadaan kelas pada tanggal 26 Mei 2008 yang didampingi oleh guru matematika SMP Islam 02 Pujon, yaitu Bapak Ali Mustofa. Dari hasil observasi tersebut, peneliti memilih kelas VII A sebagai subyek penelitian dengan pertimbangan bahwa kelas VII A cenderung terlihat lebih ramai dibandingkan kelas VII B dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, sehingga siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Akibatnya, pemahaman dari suatu materi yang telah disampaikan guru kurang dipahami oleh siswa. Peneliti berasumsi bahwa teori yang akan diterapkan sangat cocok dengan keadaan kelas seperti itu.
Kegiatan observasi dilanjutkan dengan perkenalan peneliti kepada siswa kelas VII A SMP Islam 02 Pujon. Selanjutnya peneliti memberikan pengarahan terhadap tujuan kegiatan penelitian serta rencana pelaksanaan tindakan kepada guru mata pelajaran. Setelah berdiskusi diperoleh kesepakatan bahwa pelaksanaan tindakan akan dimulai pada hari Jum’at (30 Mei 2008), dimana waktu pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal pelajaran matematika kelas VII A, yaitu hari Jum’at dan Sabtu. Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti menyerahkan rencana pembelajaran kepada guru matematika untuk dipelajari agar dalam pelaksanaannya nanti, guru tersebut telah memahami langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh peneliti.
Kegiatan berikutnya adalah peneliti membentuk kelompok belajar. Pembentukan kelompok belajar disusun berdasarkan dokumen nilai awal siswa serta diskusi dengan guru bidang studi yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2008. Dari diskusi tersebut, diperoleh 9 kelompok belajar dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa, yaitu 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 2 siswa berkemampuan rendah. Pembentukan kelompok seperti ini dimaksudkan agar siswa yang berkemampuan rendah bisa belajar bersama dengan siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang. Alasan peneliti membagi kelompok di awal observasi bertujuan agar tidak mengganggu pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan peneliti.

4.1.2 Paparan Data Siklus I
4.1.2.1 Perencanaan
Pada tahap perencanaan, guru menyiapkan seluruh perangkat yang dibutuhkan pada tindakan pertama. Hal-hal yang dibutuhkan pada tahapan ini adalah:
1) Menyiapkan materi pembelajaran.
Materi pembelajaran yang dipersiapkan dalam penelitian, meliputi; (1) segitiga dan jenis-jenisnya, (2) sifat-sifat segitiga, (3) besar sudut-sudut segitiga, (4) hubungan panjang sisi sudut dengan besar sudut, (5) sudut luar segitiga, dan (6) keliling dan luas segitiga.
2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan materi bangun datar segitiga (Lampiran 1).
3) Membuat bahan (evidence) sebagai dokumen portofolio yang meliputi:
a. Lembar Kerja Siswa (Lampiran 2),
b. Tugas Pekerjaan Rumah (Lampiran 3),
c. Format jurnal belajar siswa (Lampiran 4).
4) Membuat instrumen penelitian yang meliputi:
a. Lembar observasi aktivitas guru (Lampiran 5),
b. Lembar observasi aktivitas siswa (Lampiran 6),
c. Catatan lapangan (Lampiran 7),
d. Tes akhir siklus I (Lampiran8),
e. Rubrik penilaian portofolio (Lampiran 9).
f. Pedoman wawancara (Lampiran 10)

4.1.2.2 Tindakan
Tahap tindakan pada siklus I dilaksanakan dengan kegiatan mengajar di kelas VII A yang berjumlah 43 siswa melalui metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu; (1) Jum’at pada tanggal 30 Mei 2008, (2) Sabtu pada tanggal 31 Mei 2008. Sedangkan pelaksanaan tes akhir siklus dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 2 Juni 2008. Bersamaan dengan kegiatan mengajar, pengamatan juga dilakukan oleh pengamat. Dalam hal ini pengamat terdiri dari dua orang yaitu Bapak Ali Mustofa (guru matematika kelas VII) dan Eko Hariyanto (teman sejawat). Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran. Adapun yang dilakukan peneliti dalam pelaksanaan ini adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan pertama (Jum’at, 30 Mei 2008 jam 07.00-08.20 WIB)
a) Pada awal kegiatan pembelajaran berlangsung, pertama kali yang dilakukan guru adalah mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan membaca doa. Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa yang sekaligus membagikan map sebagai tempat dokumen portofolio dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut. Selanjutnya guru melakukan apersepsi yaitu mengaitkan pembelajaran dengan materi terdahulu mengenai sudut. Kegiatan berikutnya guru meminta siswa untuk berkumpul sesuai dengan kelompoknya. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 menit.
b) Pada kegiatan inti yaitu tahap perencanaan, guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa. Kemudian guru meminta siswa untuk mempelajari tentang pengertian, jenis-jenis, sifat-sifat, dan jumlah sudut segitiga yang menjadi pokok bahasan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Selanjutnya, guru meminta masing-masing ketua kelompok untuk tetap berada di dalam kelas. Sedangkan siswa lain (anggota kelompok) diminta untuk pindah ke ruang aula yang diawasi oleh Eko Hariyanto (teman sejawat). Dalam tahap perencanaan ini, diperoleh dua kelas, yaitu; kelas pertama berisi ketua kelompok yang dipegang oleh peneliti sebagai pengajar dan Bapak Ali Mustofa sebagai observer I, kelas kedua berisi anggota kelompok yang dipegang oleh Eko Hariyanto sebagai observer II.
c) Pada tahap perencanaan ini, guru menjelaskan tentang materi yang ada di dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Sedangkan siswa yang berada di aula, diminta untuk mempelajari materi yang ada dalam LKS dengan diawasi oleh observer II. Kemudian guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa (ketua kelompok) dengan memancing untuk menjelaskan pengertian dan menyebutkan tentang jenis, sifat, dan jumlah sudut segitiga. Pada tahap ini, semua siswa (ketua kelompok) sudah dapat memberikan pengertian segitiga meskipun kurang tepat, tetapi karena mendapat bimbingan dari guru akhirnya dapat dengan tepat memberikan pengertian segitiga tersebut. Selain itu, semua siswa (ketua kelompok) juga dapat menyebutkan jenis, sifat, dan jumlah sudut pada segitiga. Cuplikan dialog antara guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung adalah sebagai berikut:
Guru : Ok!
Sudah siap belum untuk menjelaskan kepada anggota kelompok
kalian tentang materi ini?
Siswa : Sudah Pak!
Guru : Bagus!
Sekarang Bapak mau bertanya. Jenis segitiga itu dapat dibedakan
menjadi berapa?
Siswa : Dua Pak!
Guru : Bagus sekali. Siapa yang bisa menyebutkan?
Siswa : Saya Pak!
Guru : Jangan berebut seperti ini!
Yang bisa menjawab angkat tangan!
UH : (Sambil mengangkat tangan)
Segitiga berdasarkan panjang sisinya dan besar sudutnya.
Guru : Benar atau salah anak-anak?
Siswa : Benar Pak!
Guru : Siapa yang bisa menyebutkan segitiga berdasarkan panjang sisinya?
AN : Saya Pak! Segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan yang ketiga
segitiga sembarang.
Guru : Ada yang punya jawaban lain tidak?
Siswa : Tidak Pak! Jawaban itu sudah benar.
Guru : Kemudian, jenis segitiga yang kedua adalah berdasarkan besar
sudutnya. Siapa yang bisa menyebutkan dari yang kedua ini?
AM : Saya Pak!
Jenis segita berdasarkan besar sudutnya ada tiga macam, yaitu
segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan yang terakhir segitiga tumpul.
Guru : Bagus sekali. Berarti semua sudah jelas ya?
Siswa : Ya Pak!
Guru : Kalau begitu, semua sudah siap kembali ke kelompoknya masing-
masing ya?

Pada pokok bahasan tentang jumlah sudut segitiga adalah 1800, guru memaparkan sama dengan apa yang telah dibuat guru di Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada tahap ini pembelajaran berlangsung kurang lebih 20 menit.
d) Pelaksanaan pada kegiatan inti yaitu, guru meminta siswa (ketua kelompok) untuk kembali ke kelompoknya yang berada di ruang aula. Dalam tahap ini, pembelajaran dipindahkan dari yang semula di kelas VII A menuju ke ruang aula. Kemudian meminta kepada masing-masing ketua kelompok untuk menjelaskan materi yang sudah dijelaskan oleh guru kepada anggota kelompoknya. Bersamaan dengan itu, guru membagikan kertas kepada masing-masing siswa untuk dipakai dalam pembuatan satu pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang ada di Lembar Kerja Siswa (LKS). Dari pertanyaan yang telah ditulis, guru meminta supaya kertas tersebut dibuat seperti bola. Kegiatan selanjutnya adalah guru meminta siswa melempar bola kertas tersebut kepada siswa lain dan menyuruh siswa menjawab pertanyaan yang ada pada bola kertas tersebut kepada siswa yang mendapatkan lemparan. Suasana pada saat pelemparan bola kertas memang terlihat gaduh. Tapi guru mempunyai tujuan lain, yaitu meskipun kelas dalam keadaan gaduh, siswa tetap diajak untuk berpikir menyelesaikan masalah. Kegiatan ini masih belum maksimal, karena dari seluruh siswa, hanya 4 siswa saja yang mendapatkan kebagian untuk melempar serta menjawab pertanyaan. Mungkin siswa belum terbiasa dengan pembelajaran seperti ini. Namun, diantara sekian banyak siswa yang ramai, ada beberapa kelompok yang terlihat serius dalam mengerjakan tugas yang terkait dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) tersebut, yaitu kelompok I yang diketuai oleh AM, kelompok IV yang diketuai oleh EKS, dan kelompok VI yang diketuai oleh AY. Berikut adalah cuplikan dialog pada saat metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio di kelas:
AN (kelompok I) : Pak, tugas kita ini membuat pertanyaan ya Pak?
Guru : Benar sekali. Kalian sekarang buat pertanyaan, terus
nanti dilempar kepada teman kalian. Nah, siapa nanti
yang kena lemparan, itu yang berhak menjawab dari
pertanyaan kalian.
NR (kelompok I) : Pertanyaannya diambil dari LKS ini ya Pak?
Guru : Ya. Tadi sudah dijelaskan belum sama ketua
kelompok kalian (AM)?
Kelompok I : Sudah Pak (serentak)!
Guru : Sudah paham belum dengan penjelasannya?
Kelompok I : Sudah Pak (serentak)!

Kemudian, guru juga memeriksa satu persatu kelompok lain. Bersamaan dengan itu, guru juga memberikan penjelasan kepada mereka yang belum paham terhadap metode snowball throwing. Karena sebagian siswa belum paham dengan metode pembelajaran ini, maka waktu yang digunakan juga terlihat lama. Waktu pelaksanaan ini berlangsung kurang lebih 25 menit.
e) Kegiatan tahapan inti selanjutnya adalah evaluasi. Pada tahap evaluasi, guru meminta untuk membandingkan jawaban dari penerima bola kertas kepada pelempar bola kertas. Setelah semua pembandingan jawaban selesai guru meminta siswa untuk mengumpulakan hasil pekerjaan (LKS) tersebut ke dalam suatu map yang telah disediakan oleh guru. Kemudian guru membahas mengenai soal-soal yang dibuat oleh siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Kegiatan ini berlansung kurang lebih 20 menit.
f) Di akhir pembelajaran, guru belum dapat menyimpulkan materi yang telah diajarkan karena waktu tidak cukup. Pada kegiatan ini guru hanya membagikan soal untuk Pekerjaan Rumah (PR) dan jurnal belajar. Kemudian guru meminta kepada ketua kelompok untuk mengumpulkan draf portofolio pertama yang ada di map untuk dibawa ke ruang guru. Sebelum menutup pembelajaran guru memberikan motivasi untuk menyelesaikan tugas pekerjaan rumah tersebut yang diikuti dengan menulis jurnal belajar siswa, dan kemudian diakhiri salam. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 5 menit.
2) Pertemuan kedua (Sabtu, 31 Mei 2008 jam 10.30-11.50 WIB)
a) Pada awal kegiatan pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilian portofolio, yang dilakukan guru adalah mengucapkan salam. Kemudian memeriksa kehadiran siswa yang sekaligus membagikan map sebagai tempat dokumen portofolio yang sudah dinilai oleh guru kepada masing-masing siswa dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan kali ini. Kemudian guru memberikan apersepsi dengan bertanya tentang materi kemarin untuk memastikan pemahaman siswa terhadap materi sebelumnya. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk berkelompok sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 menit.
b) Pada kegiatan inti yaitu tahap perencanaan, guru meminta ketua kelompok untuk dapat membagikan Lembar Kerja (LKS) kepada masing-masing anggotanya. Kemudian meminta untuk mempelajari LKS tersebut. Selanjutnya, guru memanggil ketua kelompok untuk maju ke meja guru guna mendapatkan penjelasan materi tentang hubungan sudut dalam dan luar segitiga, cara menghitung keliling serta luas segitiga. Pada pembelajaran kali ini, pembelajaran tetap berlangsung di kelas VII A tanpa memisahkan ketua kelompok dengan anggotanya. Hal ini dilakukan karena guru menganggap siswa sudah paham dengan metode yang dipakai oleh guru. Kemudian guru memberikan kertas kepada masing-masing kelompok sesuai dengan jumlah anggota kelompoknya. Di akhir penjelasan, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa (ketua kelompok) untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 20 menit.
c) Untuk tahap pelaksanaan dari kegiatan inti, kegiatan yang berlangsung tidak begitu jauh dengan pertemuan pertama, yaitu guru meminta ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan kepada anggotanya tentang materi yang sudah dijelaskan oleh guru. Kegiatan sudah kelihatan lebih baik dari pertemuan pertama. Semua kelompok serius berdiskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing, yang dilanjutkan dengan pembuatan pertanyaan pada satu lembar kertas. Untuk mengatasi suasana gaduh seperti yang ada pada pertemuan pertama, guru memberikan perlakuan yang agak berbeda pada saat pelemparan bola kertas, yaitu siswa langsung diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan setelah menerima lemparan bola kertas. Semua siswa tampak antusias membuat pertanyaan sekaligus melempar pertanyaan tersebut ke teman lain. Begitu juga dengan siswa yang mendapat lemparan bola kertas, mereka juga tampak begitu antusias untuk menjawabnya. Pada tahap ini, guru hanya mengarahkan kepada siswa agar jalannya pembelajaran bisa berlangsung dengan baik. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 20 menit.
d) Pada tahap evaluasi di kegiatan inti, guru meminta kepada siswa yang menjawab pertanyaan untuk membandingkan jawabannya kepada pemilik soal. Sebelum melakukan pembahasan tentang soal-soal LKS yang sudah dibuat siswa, guru meminta agar seluruh pekerjaan LKS dimasukkan ke dalam map. Setelah membahas soal, guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Berikut cuplikan dialog antara guru dengan siswa.
Guru : Ok!
Dari pelajaran hari ini, yang belum dipahami oleh kalian yang mana?
AN (kelompok I) : Untuk sudut luar Pak.
Guru : Jadi begini ya anak-anak. Pada intinya, sudut luar itu
diperoleh dari penjumlahan sudut dalam yang tidak
berpelurus dengan sudut luar tersebut. Konsepnya
dari mana? Coba kalian perhatikan LKS kalian
masing-masing! Di situ kan sudah dijelaskan bahwa:
CBD disebut sudut luar.
A, B, dan ABC disebut sudut dalam.
ABC dan CBD saling berpelurus maka :
CBD = 1800 - ABC …………….(1)
(sambil menunjukkan gambar segitiga yang ada di
LKS).
Jumlah sudut-sudut segitiga = 1800 ,
maka :
A + C + ABC = 1800
A + C = 1800 - ABC ……..…..(2)
Dari bentuk persamaan (1) dan (2) di atas,
didapatkan :
CBD = 1800 - ABC
A + C = 1800 - ABC
Karena bentuk ruas kanan kedua persamaan di atas
sama, maka nilai ruas kirinya juga harus sama,
sehingga :
CBD = A + C. Artinya bahwa besar sudut
luar suatu segitiga, itu sama dengan jumlah dua sudut
dalam yang tidak berpelurus dengan sudut luar itu.
Sudah bisa dimengerti belum?
AN (kelompok I) : Sudah Pak!
Guru : Untuk yang lain bagaimana?
Siswa : Sudah Pak!
Guru : Kalau keliling segitiga, bagaimana cara
menyelesaikannya?
UK (kelompok II) : Ah kalau itu mudah Pak! Kita tinggal menambahkan
ketiga sudutnya. Iya kan teman-teman?
Siswa : Iya Pak!
Guru : Pintar sekali.
Dalam suasana memberikan kesempatan bertanya, siswa nampak begitu antusias. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 20 menit.
e) Di akhir pembelajaran, guru memberi kesimpulan mengenai materi yang sudah dijelaskan dari awal sampai akhir pelajaran. Kemudian meminta ketua kelompok untuk mengumpulkan draf portofolio untuk dibawa ke ruang guru. Setelah itu guru meminta tolong salah satu siswa untuk membantu membagikan soal Pekerjaan Rumah (PR) dan lembar jurnal belajar siswa. Guru juga tidak lupa memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu belajar sekaligus mengerjakan PR dan mengisi lembar jurnal belajar tersebut, serta mengingatkan untuk pertemuan ketiga (Senin, 2 Juni 2008) digunakan sebagai tes akhir dari siklus I yang berlangsung pada jam 06.30 WIB. Kegiatan ini berlansung kurang lebih 10 menit dengan diakhiri doa dan salam.
3) Pertemuan ketiga (Senin, 1 Juni 2008 jam 06.30-08.10 WIB).
Sebenarnya pada hari senin tidak ada jadwal untuk mengajar matematika. Namun, atas kebijaksanaan dari kepala sekolah (Drs. Samsul Hadi, M.Si.) peneliti diberi waktu penuh selama dua jam pelajaran untuk melakukan sistem pembelajaran seperti biasa. Ini semua dilakukan dengan pertimbangan bahwa minggu ini merupakan minggu terakhir siswa mengikuti pembelajaran selama semester kedua, sehingga tidak memungkinkan jika peneliti tetap pada jadwal pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah. Pertimbangan lainnya adalah mata pelajaran yang diajarkan pada saat itu sudah habis. Pada pertemuan kali ini, peneliti tidak lagi memberikan pembelajaran seperti hari-hari sebelumnya, melainkan mengisinya dengan tes akhir siklus. Hal-hal yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a) Pada awal kegiatan, guru mengucapkan salam terlebih dahulu, dilanjutkan dengan membaca doa yang dpimpin oleh ketua kelas VII A. Kemudian guru memberikan pengarahan tentang tes siklus I kepada siswa. Cuplikan dialognya adalah sebagai berikut:
Guru : Anak-anak, semalam sudah belajar belum?
Siswa : Sudah Pak!
Guru : Berarti semuanya sudah siap untuk mengikuti tes hari
ini?
Siswa : Siap Pak!
UK (kelompok II) : Pak, soalnya berapa? Jangan sulit-sulit ya Pak?
Guru : Tidak banyak kok, dan Bapak kira juga tidak sulit.
Bapak membuat soal ini sesuai dengan hasil pekerjaan kalian selama dua pertemuaan kemarin dalam mengisi LKS, PR, serta lembar jurnal belajar. Jadi, dalam membuat soal ini, Bapak menyesuaikan dengan kemampuan kalian semuanya.
Ok! Berarti tes hari ini bisa dimulai ya?
Siswa : Ok Pak! Kami semua siap kok untuk tes!

b) Kegiatan berikutnya guru meminta tolong kepada salah satu siswa (HL) untuk membantu guru membagikan lembar jawaban kepada masing-masing siswa yang disusul dengan pembagian soal tes. Semua siswa tampak begitu tenang dalam mengikuti tes tersebut, meskipun ada satu atau dua siswa yang masih kebingungan dalam menyelesaikan butir-butir soal. Suasana pada saat pelaksanaan tes akhir siklus I bisa dilihat dari cuplikan dialog antara guru dan siswa sebagai berikut:
NR (kelompok I) : Pak, saya masih bingung dengan soal no 3.
Bagaimana cara penyelesaiannya Pak?
Guru : (sambil menjelaskan kepada semua siswa) Untuk soal
no 3 itu kan sudah diketahui besar
masing-masing sudutnya. Kalian semua kan sudah
tahu berapa jumlah sudut segitiga? Iya kan?
Siswa : Iya Pak!
Guru : Nah, dari situ kalian buat persamaan dimana sudut
a + sudut b + sudut c itu sama dengan jumlah sudut
segitiga. Kemudian kalian akan dapat persamaan
baru dari hasil persamaan tersebut. Dari situ kalian
cari nilai x nya. Bisa dipahami kan?
Siswa : Ooo….. Bisa Pak!
Guru : Ada lagi soal yang belum dimengerti ?
HK (kelompok VI) : Ini Pak, saya kesulitan dengan soal no 5.
Guru : Ooo… Yang itu.
Begini ya. Untuk soal no 5, kalian sudah tahu rumus
dari luas segitiga belum?
Siswa : Sudah Pak!
Guru : Dari soal tersebut, yang belum diketahui apa?
Siswa : Tinggi Pak!
Guru : Secara otomatis kalian harus mencari dulu tinggi
segitiga tersebut. Dengan cara bagaimana?
(sambil mengingatkan materi-materi sebelumnya)
yaitu memakai rumus phytagoras. Sudah ingat kan?
Tentunya kalian pasti bisa kok. Bapak percaya dengan
usaha kalian. Ok! Sekarang bisa dikerjakan. Jangan
ramai ya? Nanti bisa mengganggu kelas sebelah!
Siswa : Ya Pak!

Suasana pada saat tes dilaksanakan cukup tenang. Dari 43 siswa kelas VII A, hanya AN (kelompok I) yang tidak bisa hadir dikarenakan sakit. Pelaksanaan tes ini berlangsung kurang lebih 60 menit.
4.1.2.3 Pengamatan (observing)
Selama proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio, peneliti dibantu oleh Bapak Ali Mustofa selaku guru matematika sebagai observer pertama dan saudara Eko Hariyanto yang merupakan teman sejawat sebagai observer kedua. Observer ini bertugas mencatat hal-hal yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observer ini membawa lembar observasi guru, lembar observasi siswa, dan lembar catatan lapangan. Ketiga lembar observasi ini akan diisi oleh observer secara alamiah sesuai dengan yang terjadi di dalam kelas.
Hasil pengamatan observer yang ada pada lembar observasi akan di analisis dengan kriteria taraf keberhasilan tindakan sebagai berikut:
Sangat baik jika 90% ≤ SR ≤ 100%
Baik jika 80% ≤ SR < 90%
Cukup baik jika 75% ≤ SR < 80%
Kurang jika 60% ≤ SR < 75%
Sangat kurang jika 0% ≤ SR < 60%
Keterangan:
SR adalah skor rata-rata yang didapat dari:
Presentase Skor Rata-rata (SR) = X 100%
Adapun hal-hal yang dianalisis dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Perhitungan dari masing-masing analisis data tersebut adalah sebagai berikut:
1) Analisis data kualitatif
a. Hasil observasi guru
Hasil observer dalam mengamati segala aktivitas guru selama proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio secara rinci terdapat pada lembar observasi guru yang dapat dilihat di Lampiran 5. Sedangkan hasil observasi aktivitas guru akan dijelaskan sebagai berikut:

• Pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, gambaran umum hasil observasi guru dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru pada Pertemuan I

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Menjelaskan rencana pembelajaran 5 5 5
2 Penyampaian informasi 5 5 5
3 Pengamatan 5 5 5
4 Pengevaluasian hasil belajar 5 5 5
5 Komunikasi, kesimpulan dan tugas 5 4 4
Total Skor 25 24 24
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 96% 96%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Tabel 4.1 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh guru pada pertemuan pertama mencapai 96%. Karena guru sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan baik, walaupun masih ada satu deskriptor yang belum dilaksanakan oleh guru yaitu di akhir kegiatan pembelajaran guru belum dapat menyimpulkan materi yang telah diajarkan. Hal ini disebabkan karena waktu telah habis.
• Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua, gambaran umum hasil observasi guru dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio bisa dilihat pada tabel berikut.


Tabel 4.2 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru pada Pertemuan II

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Menjelaskan rencana pembelajaran 5 5 5
2 Penyampaian informasi 5 5 5
3 Pengamatan 5 5 5
4 Pengevaluasian hasil belajar 5 5 5
5 Komunikasi, kesimpulan dan tugas 5 5 5
Total Skor 25 25 25
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 100% 100%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Tabel 4.2 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh guru pada pertemuan kedua mencapai 100%. Karena guru sudah melaksanakan semua indikator dan deskriptor dengan baik.
b. Hasil observasi siswa
Hasil observer dalam mengamati segala aktivitas siswa selama proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio secara rinci terdapat pada lembar observasi siswa yang dapat dilihat di Lampiran 6. Sedangkan hasil observasi siswa akan dijelaskan sebagai berikut:
• Pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, gambaran umum hasil observasi siswa dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio dapat dilihat pada tabel berikut.



Tabel 4.3 Hasil Observasi Siswa pada Pertemuan I

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Memahami rencana pembelajaran 5 5 5
2 Pengamatan dan pemahaman materi 5 5 5
3 Keaktifan, pelaksanaan dan komunikasi 5 5 5
4 Penilaian, ketelitian dan komunikasi 5 4 4
5 Komunikasi dan tugas 5 4 4
Total Skor 25 23 23
Presentase Skor Rata-rata (SR) 92% 92%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Dari Tabel 4.3 dapat disimpulkan hasil observasi siswa sebagai berikut:
1) Pada indikator penilaian, ketelitian dan komunikasi dengan deskriptor membandingkan jawaban kepada pemilik soal diperoleh hasil bahwa siswa masih malu untuk minta perbandingan terhadap jawaban mereka kepada pembuat soal.
2) Di akhir kegiatan pada indikator komunikasi dan tugas dengan deskriptor ikut menyimpulkan materi diperoleh hasil bahwa di akhir pembelajaran siswa belum bisa ikut menyimpulkan tentang materi hari ini dikarenakan dari pihak guru juga tidak dapat menyimpulkannya dengan alasan waktu yang sudah habis untuk pelajaran matematika.
• Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua, gambaran umum hasil observasi siswa dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio dapat dilihat pada tabel di bawah ini.




Tabel 4.4 Hasil Observasi Siswa pada Pertemuan II

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Memahami rencana pembelajaran 5 5 5
2 Pengamatan dan pemahaman materi 5 5 5
3 Keaktifan, pelaksanaan dan komunikasi 5 5 5
4 Penilaian, ketelitian dan komunikasi 5 5 5
5 Komunikasi dan tugas 5 5 5
Total Skor 25 25 25
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 100% 100%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Tabel 4.4 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh siswa pada pertemuan kedua mencapai 100%. Karena siswa sudah melaksanakan semua indikator dan deskriptor dengan baik.
c. Hasil catatan lapangan
Disamping mengisi lembar observasi, pengamat juga mengisi catatan lapangan yang berisi hal-hal yang terjadi tetapi tidak terdapat pada lembar observasi. Hasil catatan lapangan selama proses pembelajaran secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 7. Sedangkan secara umum akan dijelaskan sebagai berikut:
• Pertemuan pertama
Hasil catatan lapangan dari pengamat I adalah sebagai berikut:
1) Perhatian siswa (ketua kelompok) ketika peneliti memberikan penjelasan materi cukup bagus.
2) Kegiatan diskusi dalam kelompok berlangsung kurang baik, karena masih terdapat siswa yang tidak serius dalam mengerjakan tugas-tugas pada Lembar Kerja Siswa (LKS). Mereka masih bergantung kepada ketua kelompok yang lebih pintar dalam hal penyelesaian masalah.
3) Keseriusan siswa dalam kerja kelompok untuk membuat pertanyaan cukup bagus, tapi masih terdapat beberapa siswa terkadang bercanda dengan siswa lain dengan membicarakan hal-hal yang tidak jelas.
Hasil catatan lapangan dari pengamat II adalah sebagai berikut:
1) Masih terdapat siswa yang bercanda saat pembelajaran berlangsung.
2) Peneliti kurang memahami kondisi masing-masing siswa, sehingga ada beberapa siswa merasa kurang mendapatkan perhatian yang mengakibatkan siswa tersebut kurang merespon peneliti.
3) Proses diskusi tidak sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Hal ini juga akan mempengaruhi waktu untuk kegiatan berikutnya, sehingga kegiatan selanjutnya tidak dapat dilaksankan dengan maksimal.
• Pertemuan kedua
Hasil catatan lapangan dari pengamat I adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan diskusi dalam kelompok sudah berlangsung baik.
2) Keseriusan siswa dalam membuat pertanyaan cukup baik. Mereka berlomba-lomba membuat pertanyaan sebaik mungkin dari Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan oleh guru.



Hasil catatan lapangan dari pengamat II adalah sebagai berikut:
1) Proses diskusi kelompok sudah berlangsung dengan baik. Namun ada satu siswa yaitu EK yang sibuk sendiri mengerjakan hal-hal yang kurang jelas.
2) Proses pelemparan bola kertas sudah berjalan dengan baik.
3) Peneliti kurang memberikan perhatian kepada siswa yang posisi duduknya berada di belakang.
d. Hasil wawancara
Setelah tes akhir siklus I selesai, peneliti meminta kepada siswa untuk menemui peneliti di ruang guru pada saat jam istirahat berlangsung. Adapun nama-nama dari siswa tersebut disesuaikan dengan hasil tes akhir siklus I. Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, peneliti memilih nama siswa sebagai berikut; AM (kelompok I), UK (kelompok II), AN (kelompok I), HL (kelompok VI), RS (kelompok VIII), dan EK (kelompok IV). Wawancara ini dilakukan dengan berpedoman dari nilai rata-rata hasil tes akhir siklus I dan hasil portofolio siswa dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman yang lebih mendalam, penggalian informasi tentang kesulitan siswa terhadap materi bangun datar segitiga, serta pendapat siswa mengenai penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio. Adapun hasil wawancara secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 14. Sedangkan hasil wawancara secara umum akan dijelaskan sebagai berikut:
• AM mengatakan bahwa materi bangun datar segitiga mudah, karena memang pada dasarnya AM merupakan siswa terpandai dalam kelas tersebut. AM juga senang dengan soal-soal yang ada pada Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Pekerjaan Rumah (PR) yang telah diberikan oleh peneliti.
• UK mengatakan pembelajaran dengan penilaian portofolio agak begitu berat, karena tugas-tugas yang dibutuhkan untuk dokumen portofolio begitu banyak. Namun dia senang dengan metode snowball throwing yang dipakai peneliti. Karena pada dasarnya UK memang anak yang pandai tetapi dia juga anak yang sering bercanda di dalam kelas. Sehingga dengan penerapan metode snowball throwing, dia juga tetap bisa bercanda sekaligus berpikir.
• AN dan HL mempunyai pendapat yang berbeda dari teman-temannya. Mereka lebih terlihat agak kerepotan dengan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio. Bagi mereka, metode yang diterapkan cukup membingungkan sekaligus membutuhkan kerja keras.
• RS menanggapi positif terhadap penerapan pembelajaran yang dipraktekkan peneliti. Dengan metode snowball throwing dia tidak merasa bosan mengikuti pelajaran. Dia juga mengatakan bahwa dengan penilaian portofolio dapat memacunya untuk terus meningkatkan aktivitas belajar di rumah.
• EK merasa tidak nyaman dengan metode yang dipakai peneliti. Dia sudah terlalu sering mendengarkan pembelajaran dari guru dengan metode ceramah, sehingga sulit bagi dia untuk mengikuti penerapan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio di kelas.
2) Analisis data kuantitatif
Data kuantitatif dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu dokumen portofolio siswa dan hasil tes akhir siklus I. Adapun penjelasan mengenai data kuantitatif adalah sebagai berikut:
a. Hasil portofolio siswa
Dokumen portofolio siswa diperoleh dari Lembar Kerja Siswa (LKS), Pekerjaan Rumah (PR), dan jurnal belajar yang dikumpulkan menjadi satu dari pertemuan pertama dan kedua pada siklus I. Adapun hasil portofolio siswa selama proses pembelajaran pada siklus I secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 11. Sedangkan hail portofolio siswa secara umum terdapat pada tabel berikut:











Tabel 4.5 Hasil Portofolio Siswa

No Nama Dokumen Portofolio Skor Akhir
LKS PR Jurnal Belajar
1 AN 40 40 17,5 97,5
2 AHN 30 15 12,5 57,5
3 ASZ 25 15 15 55,0
4 AK 30 30 15 75,0
5 AM 35 40 20 95,0
6 ASKN 30 40 12,5 82,5
7 AF 30 30 12,5 72,5
8 AYS 25 30 17,5 72,5
9 AY 20 30 17,5 67,5
10 DL 30 35 20 85,0
11 EK 35 20 10 65,0
12 EKS 20 25 10 55,0
13 EI 15 15 12,5 42,5
14 FS 30 20 12,5 62,5
15 FA 25 35 7,5 67,5
16 HDC 15 15 7,5 37,5
17 HL 25 15 15 55,0
18 IC 5 5 7,5 17,5
19 LW 17,5 25 12,5 55,0
20 MAF 30 20 15 65,0
21 MU 30 25 7,5 62,5
22 MHH 20 5 5 30,0
23 MMS 15 15 15 45,0
24 MMM 15 25 17,5 57,5
25 NNK 30 15 15 60,0
26 NF 20 10 12,5 42,5
27 NR 30 25 15 70,0
28 PI 35 25 20 80,0
29 R 20 15 12,5 47,5
30 RAP 20 15 15 50,0
31 RS 15 20 0 35,0
32 RA 20 15 10 45,0
33 RO 20 25 17,5 62,5
34 RI 20 25 17,5 62,5
35 RL 35 20 12,5 67,5
36 RAR 25 25 15 65,0
37 SK 25 30 17,5 72,5
38 S 20 10 17,5 47,5
39 TCW 15 25 7,5 47,5
40 UK 25 40 17,5 82,5
41 YM 35 25 12,5 72,5
42 YE 15 25 17,5 57,5
43 ZU 25 20 17,5 62,5
Rata-rata 24,24 22,79 13,60 60,64
Jumlah siswa yang tuntas 18
Jumlah siswa yang tidak tuntas 25
Presentase keberhasilan 41,86 %

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan portofolio siswa pada siklus I belum memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada siswa yang tidak tuntas dalam penilaian portofolio dengan ditunjukkan presentase keberhasilan portofolio hanya mencapai 41,86% dari 43 siswa. Dalam mengerjakan LKS, siswa masih banyak yang belum bisa terutama pada soal nomor 1 dan 4. Sedangkan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, kebanyakan siswa juga kurang bisa mengaplikasikan rumus luas segitiga untuk menyelesaikan soal. Hal ini dapat dilihat melalui cara siswa menjawab soal pekerjaan rumah pada nomor 5.
b. Hasil tes akhir siklus I
Tes akhir siklus dilaksanakan pada akhir siklus I setelah penerapan pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio selesai. Tes terdiri dari 5 soal uraian yang dapat dilihat pada Lampiran 8. Soal tes harus diselesaikan siswa selama 80 menit. Adapun hasil tes akhir siklus I secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 12. Paparan hasil analisis tes secara umum adalah sebagai berikut.

Tabel 4.6 Hasil Tes Akhir Siklus I

No Hasil Tes Akhir Siklus Jumlah
1 Rata-rata 58,19
4 Jumlah siswa yang tuntas 18
5 Jumlah siswa yang tidak tuntas 25
6 Presentase ketuntasan (%) 41,86%


Tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan tes akhir pada siklus I belum memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada siswa yang tidak tuntas dengan ditunjukkan presentase keberhasilan tes akhir siklus hanya mencapai 41,86% dari 43 siswa. Kebanyakan siswa masih belum memahami tentang jenis-jenis, besar sudut, dan luas segitiga yang ditandai dengan kurang sempurnanya penyelesaian soal mengenai bahasan tersebut yaitu soal nomor 1, 2, 3, dan 5 pada tes akhir siklus.
c. Penggabungan hasil portofolio siswa dengan hasil tes akhir siklus I
Taraf keberhasilan tindakan dari aspek siswa ditentukan melalui hasil penggabungan portofolio dengan tes siswa di akhir siklus dan diambil rata-rata dari keduanya. Penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio pada bahasan bangun datar segitiga dikatakan berhasil apabila dalam penggabungan ini diperoleh data bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 65 lebih dari 75% dari jumlah siswa. Adapun hasil penggabungan nilai portofolio dengan nilai tes akhir siklus I secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 13. Secara umum, akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 4.7 Penggabungan Nilai Portofolio dan Nilai Tes Akhir Siklus I

No Penggabungan Nilai Portofolio dan Nilai Tes Akhir Siklus I Skor
1 Rata-rata 59,41
2 Jumlah siswa yang tuntas 19
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 24
4 Presentase ketuntasan (%) 44,19%


Tabel 4.7 menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio masih jauh dari apa yang diharapkan, karena belum memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami serta menyelesaikan soal matematika masih rendah sehingga perlu ditingkatkan. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada siswa yang tidak tuntas dengan ditunjukkan presentase keberhasilan hanya mencapai 44,19% dari 43 siswa. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I belum berhasil.
3) Pengecekan keabsahan data
Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Derajat kepercayaan (credibility)
Derajat Kepercayaan yang dilakukan peneliti adalah:
• Ketekunan pengamatan
Ketekunan pengamatan berarti melakukan pengamatan secara terus- menerus. Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara membaca keseluruhan catatan hasil penelitian yang dibantu oleh dua orang pengamat yaitu Bapak Ali Mustofa (guru matematika kelas VII SMP Islam 02 Pujon) sebagai pengamat I dan Eko Hariyanto (teman sejawat) sebagai pengamat II.

• Triangulasi
Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Dalam hal ini, data yang diperoleh dari lembar observasi akan dicek dengan hasil wawancara, hasil belajar siswa, dan catatan lapangan. Hasil observasi terhadap proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio mencapai 96%. Sedangkan observasi terhadap aktivitas siswa mencapai 92%. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa siswa senang dengan metode snowball throwing, namun siswa merasa kerepotan dengan penilaian portofolio, sehingga minat siswa untuk belajar di rumah kurang. Hal ini dapat dilihat pada penggabungan portofolio siswa dengan hasil tes akhir siklus I, yang menunjukkan bahwa hanya 44,19% siswa yang tuntas dalam pembelajaran. Sedangkan hasil catatan lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sudah maksimal. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan mutu pembelajaran dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua, meskipun masih ada beberapa siswa yang bercanda sendiri. Kebanyakan dari siswa yang bercanda disebabkan karena kurangnya perhatian guru kepada siswa yang duduk di bangku belakang. Dari hasil triangulasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan siklus I belum berhasil.
• Pemeriksaan sejawat
Pemerikasaan sejawat dalam hal ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian oleh peneliti dengan kedua pengamat. Dari hasil diskusi secara informal peneliti memperoleh masukan-masukan baik dari segi metodologi maupun konteks penelitian, sehingga untuk memberi tindakan yang berikutnya peneliti bisa lebih memperbaikinya.
b. Keteralihan (transferability)
Dalam hal ini, yang dilakukan peneliti adalah memaparkan laporan penelitian secara rinci, teliti, jelas dan sistematis, sehingga hasil penelitiannya dapat dipahami orang lain. Teknik keteralihan (transferability) dalam penelitian ini berupa paparan data pada pelaksanaan siklus I.
c. Kebergantungan (dependability)
Dalam penelitian kualitatif, pengecekan keabsahan data dengan kriteria kebergantungan (dependability) dapat dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan sendiri proses penelitian di lapangan untuk mendapatkan data yang dibuktikan dengan surat keterangan telah melaksanakan penelitian dari kepala SMP Islam 02 Pujon.
d. Kepastian (confirmability)
Pemeriksaan terhadap kriteria kepastian dilakukan dengan memastikan apakah hasil temuan itu benar-benar berasal dari data. Dalam hal ini, yang dilakukan peneliti adalah meminta kedua pengamat untuk menguji apakah hasil penelitian sesuai dengan proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio. Dari pengujian seperti ini, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa merupakan efek dari proses yang dilakukan.
4.1.2.4 Refleksi
Berdasarkan hasil tes, portofolio, observasi, dan catatan lapangan yang diperoleh pada siklus I, maka akan dilakukan refleksi yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama tindakan diberikan. Adapun hasil refleksi pada siklus I adalah sebagai berikut:
1) Hasil observasi aktivitas guru yang dilakukan oleh pengamat I dan II menunjukkan bahwa 96% guru sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan baik.
2) Hasil observasi aktivitas siswa yang dilakukan oleh pengamat I dan II, menunjukkan bahwa 92% siswa sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan baik.
3) Dari hasil catatan lapangan yang dilakukan oleh pengamat I dan II dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah maksimal. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan mutu pengajaran dari hari pertama ke hari yang kedua. Berkat usaha guru akhirnya siswa sudah dapat belajar berkelompok dengan serius.
4) Hasil penggabungan tes akhir siklus I dengan portofolio siswa diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas dalam belajar hanya 14 siswa dari 43 siswa. Dengan kata lain, siswa yang tuntas dalam pembelajaran menggunakan metode snowball throwing lebih sedikit dengan presentase ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 44,19%. Kebanyakan siswa belum dapat menyebutkan jenis-jenis, sifat-sifat, besar sudut dan pemakaian rumus luas segitiga. Hal ini bisa dilihat dari jawaban siswa terhadap soal tes akhir siklus (soal nomor 1, 2, 3, dan 5).
5) Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap subyek wawancara dapat diketahui bahwa, siswa kurang respon dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio dalam pembelajaran siklus I belum mencapai target yang diinginkan oleh peneliti, karena belum memenuhi kriteria SKMB (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang telah ditetapkan sekolah, yaitu suatu kelas dikatakan tuntas belajar jika siswa yang mendapat nilai ≥ 65 lebih dari 75% dari jumlah siswa. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada siswa yang tidak tuntas dengan ditunjukkan presentase keberhasilan hanya mencapai 44,19% dari 43 siswa. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami serta menyelesaikan soal matematika masih rendah khususnya pada bahasan tentang jenis-jenis, sifat-sifat, besar sudut, dan luas segitiga sehingga perlu ditingkatkan. Dengan kata lain peneliti perlu merumuskan dan merencanakan kembali tindakan yang lebih efektif dan efisien pada siklus berikutnya.
4.1.3 Paparan data siklus II
4.1.3.1 Perencanaan
Dalam pelaksanaan tindakan siklus II, peneliti sedikit mengalami hambatan. Dalam waktu satu minggu peneliti harus dapat melakukan suatu tindakan dengan hasil yang maksimal. Dengan kata lain, tahapan pada siklus ini harus dapat menghasilkan ketuntasan. Setelah melihat hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I serta diskusi yang dilakukan dengan guru matematika dan teman sejawat, peneliti akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien pada siklus II. Peneliti akan memperbaiki segala kekurangan yang ada pada siklus I, baik itu dari segi peneliti sendiri yang berperan sebagai guru ataupun dari segi siswa. Pada siklus I diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi bangun datar segitiga masih sangat kurang, khususnya pada pokok bahasan jenis, sifat, besar sudut, dan luas segitiga.
Adapun perencanaan yang dilakukan peneliti untuk melakukan tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan materi yang meliputi jenis-jenis, sifat-sifat, besar sudut, dan luas segitiga.
2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang meliputi jenis-jenis, sifat-sifat, besar sudut, dan luas segitiga (Lampiran 15).
3) Membuat bahan (evidence) sebagai dokumen portofolio yang meliputi:
a. Lembar Kerja Siswa (Lampiran 16),
b. Tugas Pekerjaan Rumah (Lampiran 17),
c. Format jurnal belajar siswa (Lampiran 4).
4) Membuat instrumen penelitian yang meliputi:
a) Lembar observasi aktivitas guru (Lampiran 18),
b) Lembar observasi aktivitas siswa (Lampiran 19),
c) Catatan lapangan (Lampiran 20),
d) Tes akhir siklus II (Lampiran 21),
e) Rubrik penilaian portofolio (Lampiran 9),
f) Pedoman wawancara (Lampiran 10).

4.1.3.2 Tindakan
Pada siklus II, peneliti akan melakukan tindakan dalam dua kali pertemuan, yaitu; hari Jum’at (6 Juni 2008) sebagai pertemuan pertama, dan hari Sabtu (7 Juni 2008) sebagai pertemuan kedua dan terakhir. Sedangkan pelaksanaan tes akhir siklus dilaksanakan setelah pertemuan kedua selesai. Adapun penjelasan dari pemberian tindakan adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan pertama (Jum’at, 6 Juni 2008 jam 07.00-08.20 WIB)
a) Pada awal kegiatan pembelajaran berlangsung, pertama kali yang dilakukan guru adalah mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan membaca doa. Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa yang sekaligus membagikan map sebagai tempat dokumen portofolio. Bersamaan dengan itu, guru juga memberikan nilai yang diperoleh siswa selama siklus I. Kemudian, dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut. Selanjutnya guru melakukan apersepsi yaitu mengaitkan pembelajaran dengan materi terdahulu mengenai jenis, sifat, dan luas segitiga. Kegiatan berikutnya guru meminta siswa untuk berkumpul sesuai dengan kelompoknya. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 menit.
b) Pada kegiatan inti yaitu tahap perencanaan, guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa. Kemudian guru meminta siswa untuk mempelajari tentang pengertian, jenis-jenis, sifat-sifat, dan jumlah sudut segitiga yang menjadi pokok bahasan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Selanjutnya, guru meminta masing-masing ketua kelompok menuju meja guru untuk mendapatkan penjelasan tentang materi yang akan dibahas, sedangkan siswa lain tetap pada kelompoknya masing-masing dengan mempelajari materi yang ada pada Lembar Kerja Siswa (LKS).
c) Pada tahap perencanaan ini, guru menjelaskan tentang materi yang ada di dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada ketua kelompok masing-masing. Dalam penjelasan kali ini guru berusaha menjelaskan materi yang dirasa sulit pada siklus I dan meminta kepada ketua kelompok untuk dapat mengkondisikan anggotanya agar bisa belajar bersama semaksimal mungkin. Setelah itu, guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa (ketua kelompok) dengan memancing untuk menjelaskan pengertian dan menyebutkan tentang jenis, sifat, dan jumlah sudut segitiga. Pada tahap ini, semua siswa (ketua kelompok) sudah dapat memberikan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan dari guru. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 menit. Cuplikan dialog antara guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung adalah sebagai berikut:
Guru : Baiklah!
Setelah melihat hasil yang kalian peroleh dari siklus pertama,
tentunya kalian dapat mengukur diri sendiri beserta anggota
kelompok kalian. Bapak berharap dalam pertemuan kali ini, kalian
bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Bagaimana?
Siswa : Ya Pak!
Guru : Bagus!
Berarti sekarang kalian sudah paham dengan apa yang Bapak
Jelaskan tadi ya?
Siswa : Sudah Pak!
Guru : Bagus sekali!
Siswa : Memang kemarin kami masih belum paham tentang materi yang
Bapak jelaskan. Baik itu yang ada di LKS, maupun PR. Tapi
sekarang sudah lumayan Pak. Sedikit mengerti.
Guru : Jangan cuma sedikit dong!
UH : Insya Allah paham Pak.
Guru : Ok! Sekarang kalian kembali ke kelompoknya masing-masing.
Kegiatan kita kali ini masih sama dengan pertemuan kemarin. Kalian
bisa mengerti kan?
Siswa : Mengerti Pak!

d) Pelaksanaan pada kegiatan inti yaitu, guru meminta siswa (ketua kelompok) untuk kembali ke kelompoknya masing-masing. Kemudian meminta kepada masing-masing ketua kelompok untuk menjelaskan materi yang sudah dijelaskan oleh guru kepada anggota kelompoknya. Bersamaan dengan itu, guru membagikan kertas kepada masing-masing siswa untuk dipakai dalam pembuatan satu pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang ada di Lembar Kerja Siswa (LKS). Dari pertanyaan yang telah ditulis, guru meminta supaya kertas tersebut dibuat seperti bola. Kegiatan selanjutnya adalah guru meminta siswa melempar bola kertas tersebut kepada siswa lain dan menyuruh siswa menjawab pertanyaan yang ada pada bola kertas tersebut kepada siswa yang mendapatkan lemparan. Suasana kelas terlihat kondusif pada saat pelemparan bola kertas, walaupun kegiatan dilakukan dengan canda tawa, namun siswa tetap semangat serta serius dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka dapat dari bola kertas tersebut. Waktu pelaksanaan ini berlangsung kurang lebih 20 menit.
e) Kegiatan tahapan inti selanjutnya adalah evaluasi. Pada tahap evaluasi, guru meminta untuk membandingkan jawaban dari penerima bola kertas kepada pelempar bola kertas. Setelah semua pembandingan jawaban selesai guru meminta siswa untuk mengumpulkan hasil pekerjaan LKS tersebut ke dalam suatu map yang telah disediakan oleh guru. Kemudian guru membahas mengenai soal-soal yang dibuat oleh siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Kegiatan ini berlansung kurang lebih 25 menit.
f) Kegiatan terakhir pada hari ini adalah guru memberi kesimpulan mengenai materi yang sudah dijelaskan dari awal sampai akhir pelajaran. Kemudian meminta ketua kelompok mengumpulkan draf portofolio untuk dibawa ke ruang guru. Setelah itu guru meminta tolong salah satu siswa untuk membantu membagikan soal Pekerjaan Rumah (PR) dan lembar jurnal belajar siswa. Guru juga tidak lupa memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu belajar sekaligus mengerjakan PR dan mengisi lembar jurnal belajar tersebut, Kegiatan ini berlansung kurang lebih 10 menit dengan diakhiri doa dan salam.
g) Di akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan. Kemudian dilanjutkan dengan membagikan soal untuk Pekerjaan Rumah (PR) dan jurnal belajar. Setelah itu, guru meminta kepada ketua kelompok untuk mengumpulkan draf portofolio yang ada di map untuk dibawa ke ruang guru. Sebelum menutup pembelajaran guru memberikan motivasi untuk menyelesaikan tugas pekerjaan rumah tersebut yang diikuti dengan menulis jurnal belajar siswa, dan kemudian diakhiri salam. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 5 menit.
2) Pertemuan kedua (Sabtu, 7 Juni 2008 jam 10.30-11.50 WIB)
a) Pada awal kegiatan pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilian portofolio adalah guru mengucapkan salam. Kemudian memeriksa kehadiran siswa yang sekaligus membagikan map sebagai tempat dokumen portofolio yang sudah dinilai oleh guru kepada masing-masing siswa dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan kali ini. Kemudian guru memberikan apersepsi dengan bertanya tentang materi kemarin untuk memastikan pemahaman siswa terhadap materi sebelumnya. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk berkelompok sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 menit.
b) Pada kegiatan inti yaitu tahap perencanaan, guru tetap menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dipakai pada pertemuan pertama. Guru cuma meminta kepada siswa untuk mengkaji/memahami ulang tentang seluruh materi yang disampaikan oleh guru mulai dari siklus I sampai dengan pertemuan terakhir pada siklus II. Selanjutnya, guru memanggil ketua kelompok untuk maju ke meja guru guna mendapatkan penjelasan materi-materi yang belum dipahami oleh anggota kelompoknya. Berikut adalah cuplikan dari dialog yang dilakukan guru pada pertemuan kedua dengan siswa:
Guru : Setelah belajar bersama dengan anggota kelompok,
apakah masih ada materi yang kalian belum pahami?
Kalian sebagai ketua kelompok mempunyai tanggung
jawab terhadap kelompok kalian. Jika kalian tidak
dapat menjelaskan kepada teman kalian, sekarang
waktu yang tepat buat kalian untuk bertanya kepada
Bapak. Dengan begitu, kalian akan dapat memahami
sekaligus menjelaskannya nanti kepada tema-teman
kalian.
R (kelompok V) : Oh ya Pak! Ini! kelompok kami masih kesulitan
dengan soal no 4 yang ada di LKS (sambil
menunjukkan LKS).

Kegiatan ini dilakukan dengan tanya jawab mengenai materi yang belum dipahami oleh siswa. Seluruh siswa (ketua kelompok) antusias menanyakan kepada guru mengenai materi yang belum dipahami, baik itu dari individu ketua kelompok maupun dari anggotanya. Kemudian guru memberikan kertas kepada masing-masing kelompok sesuai dengan jumlah anggota kelompoknya. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 30 menit.
c) Untuk tahap pelaksanaan dari kegiatan inti, kegiatan yang berlangsung tidak begitu jauh dengan pertemuan pertama, yaitu guru meminta ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan kepada anggotanya tentang materi yang sudah dijelaskan oleh guru. Kegiatan ini berjalan dengan baik. Semua kelompok serius berdiskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing, yang dilanjutkan dengan pembuatan pertanyaan pada satu lembar kertas. Semua siswa tampak antusias membuat pertanyaan sekaligus melempar pertanyaan tersebut ke teman lain. Begitu juga dengan siswa yang mendapat lemparan bola kertas, mereka juga tampak begitu antusias untuk menjawabnya. Pada tahap ini, guru hanya mengarahkan kepada siswa agar jalannya pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Karena waktu yang tidak memungkinkan, kegiatan pelemparan bola kertas tidak dapat dilakukan oleh seluruh siswa. Kegiatan ini berlansung kurang lebih 20 menit.
d) Pada tahap evaluasi di kegiatan inti, guru meminta kepada siswa yang menjawab pertanyaan untuk membandingkan jawabannya kepada pemilik soal. Kemudian guru memberikan penjelasan mengenai soal-soal yang terdapat dalam bola kertas. Setelah membahas soal, guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami pada hari ini. Pada saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya, siswa nampak begitu antusias. Sehingga kegitan inti dari hari ini berlangsung lama, yaitu sekitar kurang lebih 20 menit.
e) Di akhir pembelajaran, guru belum dapat menyimpulkan materi yang telah diajarkan karena waktu tidak cukup. Pada kegiatan ini guru hanya memberikan motivasi untuk belajar guna menghadapi tes aksir siklus II yang akan dilaksanakan setelah sholat dzuhur berjama’ah. Sebenarnya untuk pertemuan kali ini sudah tidak ada lagi pelajaran, karena jam untuk pelajaran matematika berada tepat pada jam terakhir. Namun, oleh pihak sekolah meminta kepada siswa khususnya kelas VII A untuk tetap mengikuti tes yang akan dilakukan oleh peneliti. Setelah memberikan motivator, kegiatan pembelajaran ditutup dengan ucapan salam. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 5 menit.
3) Pertemuan ketiga (Sabtu, 7 Juni 2008 jam 12.30-13.50 WIB).
Pada pertemuan kali ini, pertama kali yang dilakukan guru adalah mengucapkan salam. Kemudian guru memberikan ucapan terima kasih kepada siswa karena kesediaannya untuk tetap berada di sekolah. Hal ini dilakukan juga sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri serta menghilangkan rasa jenuh terhadap mata pelajaran matematika. Sebelum tes dimulai, guru meminta siswa untuk berdoa terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan meminta tolong kepada salah satu siswa (AN) untuk membantu guru dalam pembagian lembar jawaban, kemudian disusul dengan pembagian soalnya. Soal yang diberikan guru juga tidak terlalu banyak, guru hanya membuat tiga soal dari bahasan yang dianggap sulit oleh siswa. Dalam pelaksanaannya, siswa terlihat tetap semangat, bahkan ada siswa yang dapat menyelesaikannya lebih awal dari waktu yang telah diberikan guru untuk mengerjakan soal (kurang lebih 60 menit) tersebut. Di akhir tes, guru memberikan ucapan selamat kepada siswa dan memberikan informasi bahwa hasil yang mereka peroleh bisa diketahui setelah ujian akhir semester selesai. Guru juga meminta kepada siswa yang dijadikan subyek wawancara untuk dapat dimintai keterangannya mengenai pembelajaran yang telah diterapkan guru selama siklus ke II ini pada saat pemberitahuan tentang hasil yang diperoleh siswa nanti. Kemudian guru mengucapkan salam.
4.1.3.3 Hasil observasi
Hal-hal yang dianalisis pada siklus II terbagi ke dalam dua bagian, yaitu analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Perhitungan dari masing-masing analisis data tersebut adalah sebagai berikut:
1) Analisis data kualitatif
a. Hasil observasi guru
Hasil observer dalam mengamati segala aktivitas guru selama proses pembelajaran secara rinci terdapat pada lembar observasi guru yang dapat dilihat di Lampiran 18. Sedangkan hasil observasi aktivitas guru akan dijelaskan sebagai berikut:


• Pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, gambaran umum hasil observasi guru dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.8 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru pada Pertemuan I

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Menjelaskan rencana pembelajaran 5 5 5
2 Penyampaian informasi 5 5 5
3 Pengamatan 5 5 5
4 Pengevaluasian hasil belajar 5 5 5
5 Komunikasi, kesimpulan dan tugas 5 5 5
Total Skor 25 25 25
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 100% 100%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Tabel 4.2 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh guru pada pertemuan pertama mencapai 100%, karena guru sudah melaksanakan semua indikator dan deskriptor dengan baik.
• Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua, gambaran umum hasil observasi guru bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.9 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru pada Pertemuan II

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Menjelaskan rencana pembelajaran 5 5 5
2 Penyampaian informasi 5 5 5
3 Pengamatan 5 5 5
4 Pengevaluasian hasil belajar 5 5 5
5 Komunikasi, kesimpulan dan tugas 5 4 4
Total Skor 25 24 24
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 96% 96%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh guru pada pertemuan kedua mencapai 96%. Karena guru sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan baik, walaupun masih ada satu deskriptor yang belum dilaksanakan oleh guru yaitu di akhir kegiatan pembelajaran guru belum dapat menyimpulkan materi yang telah diajarkan . Hal ini disebabkan karena waktu telah habis.
b. Hasil observasi siswa
Hasil observer dalam mengamati segala aktivitas siswa selama proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio secara rinci terdapat pada lembar observasi siswa yang dapat dilihat di Lampiran 19. Sedangkan hasil observasi siswa akan dijelaskan sebagai berikut:
• Pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, gambaran umum hasil observasi siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.10 Hasil Observasi Siswa pada Pertemuan I

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Memahami rencana pembelajaran 5 5 5
2 Pengamatan dan pemahaman materi 5 5 5
3 Keaktifan, pelaksanaan dan komunikasi 5 5 5
4 Penilaian, ketelitian dan komunikasi 5 5 5
5 Komunikasi dan tugas 5 5 5
Total Skor 25 25 25
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 100%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Tabel 4.10 menunjukkan bahwa taraf keberhasilan yang dilakukan oleh siswa pada pertemuan pertama mencapai 100%. Karena siswa sudah melaksanakan semua indikator dan deskriptor dengan baik.
• Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua, gambaran umum hasil observasi siswa dalam penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.11 Hasil Observasi Siswa pada Pertemuan II

No Indikator Skor maksimal Pengamat I Pengamat II
1 Memahami rencana pembelajaran 5 5 5
2 Pengamatan dan pemahaman materi 5 5 5
3 Keaktifan, pelaksanaan dan komunikasi 5 5 5
4 Penilaian, ketelitian dan komunikasi 5 5 5
5 Komunikasi dan tugas 5 4 4
Total Skor 25 24 24
Presentase Skor Rata-rata (SR) 100% 96% 96%
Taraf Keberhasilan Sangat Baik Sangat Baik


Dari Tabel 4.11 dapat disimpulkan hasil observasi siswa pada pertemuan kedua sebagai berikut:
1) Semua indikator dan deskriptor sudah 96 % dilaksanakan siswa.
2) Di akhir kegiatan pada indikator komunikasi dan tugas dengan deskriptor ikut menyimpulkan materi diperoleh hasil bahwa siswa belum dapat ikut menyimpulkan tentang materi hari ini dikarenakan dari pihak guru juga tidak dapat menyimpulkannya dengan alasan waktu yang sudah habis untuk pelajaran matematika.

c. Hasil catatan lapangan
Disamping mengisi lembar observasi, pengamat juga mengisi catatan lapangan yang berisi hal-hal yang terjadi tetapi tidak terdapat pada lembar observasi. Hasil catatan lapangan selama proses pembelajaran secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 20. Sedangkan secara umum akan dijelaskan sebagai berikut:
• Pertemuan pertama
Hasil catatan lapangan dari pengamat I adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan diskusi dalam kelompok berlangsung baik.
2) Keseriusan siswa dalam membuat pertanyaan cukup baik. Mereka berlomba-lomba membuat pertanyaan sebaik mungkin dari Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan oleh guru.
Hasil catatan lapangan dari pengamat II adalah sebagai berikut:
1) Proses diskusi kelompok berlangsung dengan baik.
2) Proses pelemparan bola kertas berjalan dengan baik.
• Pertemuan kedua
Hasil catatan lapangan dari pengamat I adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan diskusi dalam kelompok berlangsung baik.
2) Keseriusan siswa dalam membuat pertanyaan cukup baik.
Hasil catatan lapangan dari pengamat II adalah sebagai berikut:
1) Proses diskusi kelompok berlangsung dengan baik.
2) Proses pelemparan bola kertas berjalan dengan baik.
3) Waktu yang dibutuhkan guru untuk mengajar kurang banyak, sehingga dalam setiap kali pertemuan maksimal hanya 5-10 siswa saja yang mendapatkan kesempatan untuk melempar dan menjawab pertanyaan bola kertas.
d. Hasil wawancara
Wawancara dilakukan setelah siswa menyelesaikan ujian akhir semester. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu konsentrasi siswa dalam mempersiapkan ujian akhir semester. Subyek wawancara masih tetap sama seperti pada siklus I. dengan cara ini peneliti akan lebih mengerti perkembangan pemahaman siswa terhadap materi bangun datar segitiga. Adapun hasil wawancara secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 25. Sedangkan hasil wawancara secara umum akan dijelaskan sebagai berikut:
• AM mengatakan bahwa di siklus II ini telah memahami lebih jauh tentang materi segitiga.
• UK mempunyai pendapat yang sama dengan wawancara pada siklus I, yaitu pembelajaran dengan penilaian portofolio agak begitu berat, karena tugas-tugas yang dibutuhkan untuk dokumen portofolio begitu banyak. Namun dia senang dengan metode snowball throwing yang dipakai peneliti.
• AN, RS, dan HL mengucapkan banyak terima kasih kepada guru. Melalui metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio, mereka bisa lebih giat belajar serta tidak mengalami kepasifan selama proses pembelajaran berlangsung. Mereka jug mengakui kalau penilaian portofolio itu membutuhkan waktu ekstra, akan tetapi dari itu semua mereka dapat memperoleh hasil yang maksimal dari usahanya.
• EK juga merasakan hal yang sama dengan RS, AN, dan HL. Dia juga menyadari bahwa dengan snowball throwing, dia dapat lebih mengeksplorasikan keinginannya serta dapat berbagi pengalaman, khususnya dengan teman kelompok, dan umumnya dengan teman sekelas. Dia juga menambahkan bahwa dengan pembelajaran seperti ini, bisa lebih memberanikan siswa untuk mengeluarkan bendapat.
2) Analisis data kuantitatif
Data kuantitatif dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu dokumen portofolio siswa dan hasil tes akhir siklus I. Adapun penjelasan mengenai data kuantitatif adalah sebagai berikut:
a. Hasil portofolio siswa
Dokumen portofolio siswa diperoleh dari Lembar Kerja Siswa (LKS), Pekerjaan Rumah (PR), dan jurnal belajar. Pada siklus kedua ini, peneliti hanya meminta kepada siswa untuk mengumpulkan dokumen portofolio satu kali. Adapun hasil portofolio siswa selama proses pembelajaran pada siklus II secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 22. Sedangkan hasil portofolio siswa secara umum terdapat pada tabel berikut:



Tabel 4.12 Hasil Portofolio Siswa

No Nama Dokumen Portofolio Skor Akhir
LKS PR Jurnal Belajar
1 AN 40 40 15 95
2 AHN 35 30 15 80
3 ASZ 40 30 20 90
4 AK 40 30 10 80
5 AM 40 40 20 100
6 ASKN 35 40 15 90
7 AF 35 35 20 90
8 AYS 40 40 20 100
9 AY 35 35 20 90
10 DL 40 40 15 95
11 EK 30 30 15 75
12 EKS 40 30 20 90
13 EI 40 40 15 95
14 FS 30 30 15 75
15 FA 40 40 15 95
16 HDC 30 30 15 75
17 HL 40 40 15 95
18 IC 35 30 20 85
19 LW 30 30 15 75
20 MAF 40 40 20 100
21 MU 35 30 15 80
22 MHH 35 35 20 90
23 MMS 40 40 20 100
24 MMM 40 30 20 90
25 NNK 25 25 10 60
26 NF 30 30 10 70
27 NR 30 30 10 70
28 PI 40 40 15 95
29 R 30 30 20 80
30 RAP 30 25 10 80
31 RS 30 30 0 60
32 RA 40 35 20 95
33 RO 35 30 15 80
34 RI 30 25 10 65
35 RL 35 35 20 90
36 RAR 40 40 20 100
37 SK 40 35 20 95
38 S 30 35 20 85
39 TCW 40 35 15 90
40 UK 40 40 20 100
41 YM 40 40 10 90
42 YE 35 35 15 85
43 ZU 40 40 20 100
Rata-rata 35,93 34,19 16,04 86,16
Jumlah siswa yang tuntas 41
Jumlah siswa yang tidak tuntas 2
Presentase keberhasilan 95,34%

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan portofolio siswa pada siklus II sudah memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Karena dari hasil portofolio siswa, hampir semua siswa mendapatkan skor lebih dari ketentuan yang berlaku, hanya dua siswa yang tidak mencapai ketentuan tersebut. Presentase keberhasilan portofolio mencapai 95,34% dari 43 siswa.
b. Hasil tes akhir siklus II
Tes akhir siklus dilaksanakan pada akhir siklus II setelah penerapan pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio selesai. Tes terdiri dari 3 soal uraian yang dapat dilihat pada Lampiran 23. Soal tes harus diselesaikan siswa selama 60 menit. Adapun hasil tes akhir siklus I secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 22. Paparan hasil analisis tes secara umum adalah sebagai berikut.

Tabel 4.13 Hasil Tes Akhir Siklus II

No Hasil Tes Akhir Siklus Jumlah
1 Rata-rata 80,39
4 Jumlah siswa yang tuntas 38
5 Jumlah siswa yang tidak tuntas 5
6 Presentase ketuntasan (%) 88,37%


Tabel 4.13 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan tes akhir pada siklus II sudah memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih banyak dari pada siswa yang tidak tuntas dalam tes akhir siklus dengan ditunjukkan presentase keberhasilan tes mencapai 88,37% dari 43 siswa.
c. Penggabungan hasil portofolio dengan hasil tes akhir siklus II
Taraf keberhasilan tindakan dari aspek siswa ditentukan melalui hasil penggabungan portofolio dengan tes akhir siklus dan diambil rata-rata dari keduanya. Penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio pada bahasan bangun datar segitiga dikatakan berhasil apabila dalam penggabungan ini diperoleh data bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 65 lebih dari 75% dari jumlah siswa. Adapun hasil penggabungan nilai portofolio dengan nilai tes akhir siklus II secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 24. Secara umum, akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 4.13 Penggabungan Nilai Portofolio dan Nilai Tes Akhir Siklus II

No Penggabungan Nilai Portofolio dan Nilai Tes Akhir Siklus II Skor
1 Rata-rata 83,28
2 Jumlah siswa yang tuntas 37
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 6
4 Presentase ketuntasan (%) 86,05%

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio sudah seperti yang diharapkan oleh peneliti, karena telah memenuhi SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami serta menyelesaikan soal matematika sudah meningkat. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih banyak dari pada siswa yang tidak tuntas dengan ditunjukkan presentase keberhasilan mencapai 86,05% dari 43 siswa. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus II sudah berhasil.
3) Pengecekan keabsahan data
Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Derajat kepercayaan (credibility)
Derajat yang dilakukan peneliti adalah:
• Ketekunan pengamatan
Ketekunan pengamatan berarti melakukan pengamatan secara terus- menerus. Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara membaca keseluruhan catatan hasil penelitian yang dibantu oleh dua orang pengamat yaitu Bapak Ali Mustofa (guru matematika kelas VII SMP Islam 02 Pujon) sebagai pengamat I dan Eko Hariyanto (teman sejawat) sebagai pengamat II.
• Triangulasi
Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Dalam hal ini, data yang diperoleh dari lembar observasi akan dicek dengan hasil wawancara, hasil belajar siswa, dan catatan lapangan. Hasil observasi terhadap proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio mencapai 96%. Sedangkan observasi terhadap aktivitas siswa mencapai 96%. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa siswa sangat senang dengan metode pembelajaran snowball throwing dengan penilaian portofolio. Hal ini dapat dilihat dari penggabungan portofolio siswa dengan hasil tes akhir siklus II, yang menunjukkan bahwa 86,05% siswa telah tuntas dalam pembelajaran. Sedangkan hasil catatan lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sudah maksimal. Hal ini dapat dilihat dari keadaan saat proses pembelajaran yang sangat kondusif. Dari hasil triangulasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan siklus II sudah berhasil.
• Pemeriksaan sejawat
Pemerikasaan sejawat dalam hal ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian oleh peneliti dengan kedua pengamat. Dari hasil diskusi secara informal peneliti memperoleh masukan-masukan baik dari segi metodologi maupun konteks penelitian, sehingga untuk memberi tindakan yang berikutnya peneliti bisa lebih memperbaikinya.
b. Keteralihan (transferability)
Dalam hal ini, yang dilakukan peneliti adalah memaparkan laporan penelitian secara rinci, teliti, jelas dan sistematis, sehingga hasil penelitiannya dapat dipahami orang lain. Teknik keteralihan (transferability) dalam penelitian ini berupa paparan data pada pelaksanaan siklus II.
c. Kebergantungan (dependability)
Dalam penelitian kualitatif, pengecekan keabsahan data dengan kriteria kebergantungan (dependability) dapat dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan sendiri proses penelitian di lapangan untuk mendapatkan data yang dibuktikan dengan surat keterangan telah melaksanakan penelitian dari kepala SMP Islam 02 Pujon.
d. Kepastian (confirmability)
Pemeriksaan terhadap kriteria kepastian dilakukan dengan memastikan apakah hasil temuan itu benar-benar berasal dari data. Dalam hal ini, yang dilakukan peneliti adalah meminta kedua pengamat untuk menguji apakah hasil penelitian sesuai dengan proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio. Dari pengujian seperti ini, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa merupakan efek dari proses yang dilakukan.
4.1.3.4 Refleksi
Berdasarkan hasil tes, portofolio, observasi, dan catatan lapangan yang diperoleh pada siklus II, maka akan dilakukan refleksi yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama tindakan diberikan. adapun hasil refleksi pada siklus II adalah sebagai berikut :
1) Hasil observasi aktivitas guru yang dilakukan oleh pengamat I dan II menunjukkan bahwa guru sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan sangat baik.
2) Hasil observasi aktivitas siswa yang dilakukan oleh pengamat I dan II, menunjukkan bahwa siswa sudah melaksanakan indikator dan deskriptor dengan sangat baik.
3) Dari hasil catatan lapangan yang dilakukan oleh pengamat I dan II dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah maksimal. Hal ini bisa dilihat pada saat pembelajaran, siswa sangat antusias mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga situasi pembelajaran terlihat sangat kondusif.
4) Hasil penggabungan tes akhir siklus I dengan portofolio siswa diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas dalam belajar mencapai 37 siswa dari 43 siswa. Dengan kata lain, siswa telah tuntas dalam pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio.
5) Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap subyek wawancara dapat diketahui bahwa siswa sangat senang mengikuti pembelajaran yang menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan meode snowball throwing dengan penilaian portofolio dalam pembelajaran siklus II sudah mencapai target yang diinginkan oleh peneliti, karena sudah memenuhi kriteria SKMB (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang telah ditetapkan sekolah yaitu suatu kelas dikatakan tuntas belajar jika siswa yang mendapat nilai ≥ 65 lebih dari 75% dari jumlah siswa. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tuntas lebih banyak dari pada siswa yang tidak tuntas dengan ditunjukkan presentase keberhasilan mencapai 86,05% dari 43 siswa. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami serta menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan segitiga sudah meningkat. Sehingga bisa disimpulkan bahwa siklus II sudah dikatakan tuntas dan tidak perlu lagi dilanjutkan ke siklus berikutnya.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Metode Snowball throwing dengan Penilaian Portofolio

Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan pratindakan melalui observasi terhadap keadaan sekolah, yang dilanjutkan dengan wawancara dengan guru matematika. Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa mayoritas keadaan siswa kelas VII A cenderung lebih aktif dibandingkan kelas VII B. Keaktifan ini bukan memperlihatkan keseriusan siswa dalam pembelajaran, melainkan siswa lebih aktif dengan kegiatan yang lain, sehingga peneliti memilih kelas tersebut sebagai subyek penelitian. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti merencanakan pembelajaran yang menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio. Hal ini dilakukan peneliti agar keaktifan siswa yang tidak mendukung pembelajaran dapat dimaksimalkan sehingga pemahaman siswa terhadap penjelasan guru dapat tercapai. Pada proses pembelajaran menggunakan metode snowball throwing dengan penilaian portofolio, peneliti melakukan penelitian dengan dua siklus. Siklus pertama dilakukan dengan dua kali pertemuan, dan siklus kedua juga dilakukan dengan dua kali pertemuan. Pada tiap pertemuan, peneliti membagi pembelajaran ke dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir.
Pada awal pembelajaran, peneliti memulai kagiatan dengan memberikan motivasi kepada siswa. Pemberian motivasi dilakukan agar siswa lebih siap untuk mengikuti proses pembelajaran yang akan berlangsung. Peneliti juga menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari tersebut. Penyampaian tujuan pembelajaran berfungsi agar siswa mengetahui tujuan pembelajaran yang diinginkan peneliti, sehingga siswa akan lebih fokus pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Untuk menggali pengetahuan siswa, guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali tentang materi-materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari, supaya pengetahuan yang diperoleh siswa menyatu dengan pengetahuan yang dimilikinya, dan membentuk suatu pemahaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hiebert (dalam Usman, 2001:11) yang menyatakan bahwa pemahaman adalah keadaan pengetahuan ketika informasi matematika baru dihubungkan tepat dengan pengetahuan yang telah ada.
Pada tahap inti, peneliti meminta siswa untuk menempati kelompoknya masing-masing yang sudah dibentuk pada saat observasi awal. Pelaksaanaan pembelajaran melalui metode snowball throwing dengan penilaian portofolio dilaksanakan dengan mengacu pada tahapan-tahapan metode snowball throwing yang dikemukakan oleh Kisworo (2008:11), yaitu; (1) guru menyampaikan materi yang akan disajikan, (2) guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi, (3) masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya, (4) masing-masing siswa diberi satu lembar kertas untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok, (5) kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit, (6) setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian, (7) guru memberikan kesimpulan, dan (8) evaluasi. Demi kelancaran pembelajaran melalui metode snowball throwing dengan penilaian portofolio guru memberikan LKS untuk dijadikan sebagai tugas individu dalam pengumpulan dokumen portofolio dan tugas kelompok dalam pelaksanaan metode snowball throwing. Dalam melakukan penilaian terhadap karya siswa, guru menggunakan penilaian portofolio. Dimana penilaian ini dilakukan agar tumbuh rasa saling percaya antara guru dan siswa. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian portofolio yang dikemukakan oleh Majid (2008:202), antara lain; (1) saling percaya (mutual trust) antar siswa dan guru, (2) kerahasiaan bersama (confidentiality) antara guru dan siswa, (3) milik bersama (join ownership) antara guru dan siswa, (4) kepuasaan (satisfaction), (5) kesesuaian (relevance), dan (6) penilaian proses dan hasil.
Di akhir pembelajaran, guru meminta seluruh pekerjaannya untuk dikumpulkan ke dalam suatu map. Dokumen yang digunakan untuk melengkapi portofolio terdiri dari Lembar Kerja Siswa (LKS), Pekerjaan Rumah (PR), dan jurnal belajar. Untuk melengkapi dokumen portofolio, guru juga memberikan beberapa tugas rumah kepada siswa. Kegiatan ini berlangsung selama proses pembelajaran mulai dari siklus I sampai ke siklus II.
4.2.2 Peningkatan Pemahaman
Berdasarkan hasil belajar siswa pada tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II, dapat diketahui dengan jelas bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman pada pokok bahasan bangun datar segitiga. Hal ini ditunjukkan dengan cara siswa menyelesaikan terhadap soal yang membahas tentang jenis, besar sudut, serta luas segitiga. Pada soal tes akhir siklus I, soal-soal tersebut tidak bisa diselesaikan dengan benar oleh siswa. Sedangkan pada tes akhir siklus II siswa sudah dapat menyelesaikan soal tersebut dengan benar, meskipun soal telah dibuat agak bervariasi. Peningkatan ini bisa dilihat pada AN, HL, dan RS yang mempunyai kompetensi rendah. Mereka mengalami peningkatan yang sangat signifikan, meskipun hasil itu masih belum maksimal jika dibandingkan dengan EK yang mempunyai kompetensi sedang.
Melalui metode snowball throwing, siswa juga mengalami peningkatan pemahaman, sebab dengan berkelompok akan menghasilkan perbedaan pemahaman, sehingga mereka menemukan suatu penjelasan lebih mendalam. Selain itu pada saat pelemparan bola kertas yang berisi pertanyaan mereka juga akan mendapatkan pemahaman yang lebih sempurna, sehingga dapat dipastikan semua siswa akan mengalami peningkatan pada belajarnya. Sedangkan melalui portofolio, selain dari pihak guru, siswa juga dapat belajar serta mengukur kemampuannya sendiri. Seperti yang dijelaskan Karim (dalam Kristina, 2006:19) yang menyatakan bahwa salah satu tujuan penting yang disajikan dalam suatu portofolio adalah portofolio dapat memungkinkan guru untuk mengakses perkembangan pemahaman siswa terhadap suatu pelajaran. Dengan mengetahui kemampuan yang dimilikinya, siswa lebih termotivasi untuk belajar, sehingga akan menanamkan sebuah pemahaman pada diri siswa.
4.2.3 Hasil Belajar Siswa
Proses evaluasi terhadap siswa dilakukan melalui penilaian proses dan hasil. Penilaian proses dilakukan melalui observasi yang berpedoman pada lembar observasi, sedangkan untuk penilaian hasil dilakukan dengan tes pada setiap akhir siklus dan hasil portofolio siswa yang diambil rata-ratanya untuk mengetahui ketercapaian indikator pembelajaran.
Hasil belajar siswa menurut rata-rata kelas dapat dikatakan berhasil. Hasil ini dapat dilihat pada hasil tes akhir siklus I, siklus II, serta penggabungan dengan hasil portofolio siswa. Pada siklus I dari 43 siswa diperoleh data bahwa siswa yang mendapatkan nilai ≥ 65 sebanyak 19 siswa dengan rata-rata kelas 59,41. Sehingga dapat dikatakan hanya sekitar 44,19% siswa sudah tuntas dan telah memahami materi segitiga.
Sedangkan pada siklus II, dari 43 siswa diperoleh data bahwa siswa yang mendapatkan nilai ≥ 65 sebanyak 37 siswa dengan rata-rata kelas 83,28, sehingga dapat dikatakan 86,05% siswa sudah tuntas dan telah memahami materi segitiga. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada penelitian ini, dapat diketahui bahwa siswa mengalami peningkatan dan nilainya sudah sesuai dengan target yang diinginkan oleh peneliti maupun sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar